Sejarah Mesjid Agung Cianjur

Dibalik Perjalanan Panjang Mesjid Agung Cianjur

Mesjid Agung Cianjur adalah sebuah mesjid yang berlokasi di Jl. Siti Jenab, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sejak pertama kali dibangun pada jaman pendudukan Belanda, Mesjid Agung Cianjur sudah mengalami 7 kali renovasi dan perluasan. Terahir kali pada tanggal 2 Agustus 1993 hingga tanggal 1 Januari 1998, dilakukan renovasi total yang menelan anggaran sekitar Rp 7,5 M. Renovasi besar-besaran tersebut dilakukan pada priode kepemimpinan Bupati Drs. H. Eddi Soekardi dan berakhir di masa kepemimpinan Bupati Drs. H. Harkat Handiamihardja. Kini, Mesjid Agung Cianjur telah memiliki luas bangunan sekitar 2.500 m2 dan di perkirakan bisa menampung kurang lebih 4000 jemaah, gaya arsitektur timur modern pun telah menjadi wajah dari Mesjid yang memiliki perjalanan panjang ini.

Tiga pintu utama yang berada di Mesjid Agung Cianjur diberi nama, antara lain:
  1. Babul Marhamah, pintu timur yang menghadap Jl. K. H. Tajudin (area parkir) dan Alun-alun Cianjur.
  2. Babussalam, pintu selatan yang menghadap ke Jl. Mesjid Agung
  3. Babussakinah, pintu utara yang menghadap ke Jl. Siti Jenab
Pembangunan:

Mesjid Agung Cianjur dibangun pada tahun 1810 oleh seorang warga Cianjur, namun tidak diketahui saat ini (tidak ada catatan) siapa seseorang tersebut. Namun pembangunan tersebur didukung oleh Raden boededar dengan mewakafkan tanah miliknya untuk pembangunan Mesjid tersebut, Raden boededar merupakan anak dari Kangjeng Dalem Sabirudin. Kangjeng Dalem Sabirudin adalah Bupati Cianjur ke-4 (priode 1727 - 1761) yang bergelar Raden Aria Wira Tanu IV.

Renovasi Pertama:

10 tahun setelah pembangunan, untuk pertama kalinya Mesjid Agung Cianjur di renovasi dan dikerjakan langsung oleh Raden Muhammad Hoesin Bin Syekh Abdullah Rifai, Penghulu Agung pertama dan Raden Mojanagara, Cucu Bupati Cianjur ke-4 (Raden Aria Wira Tanu IV). Hasil renovasi tersebut membuat bangunan Mesjid lebih besar dari sebelumnya, yaitu menjadi sekitar 400 m2.

Renovasi pasca meletusnya Gunung Gede:

Renovasi pasca meletusnya Gunung Gede:

Akibat dari meletusnya Gunung Gede pada tahun 1879, Mesjid Agung Cianjur mengalami kerusakan yang sangat hebat. Renovasi dilakukan setahun kemudian (tahun 1880) oleh Penghulu Agung saat itu RH. Soelaeman, dan seorang ulama yang bernama RH. Ma’mun bin RH. Hoessein. Renovasi yang juga dibantu oleh masyarakat tersebut membuat bangunan Mesjid Agung Cianjur bertambah luas, yaitu sekitar 400 m2.

Renovasi selanjutnya:

Renovasi ke-3 dilakukan pada tahun 1912 oleh RH Moch Said (Panghulu Agung Cianjur), Isa al-Cholid, RH Tolhah Bin RH Ein al-Cholid dan H Akiya Bin Darham. Renovasi ke-4 dilakukan pasca kemerdekaan, tepatnya tahun 1950, dengan anggaran sekitar Rp 500.000. Renovasi ke-5 dan ke-6 dilakukan dalam renggang waktu tahun 1951 - 1974. Seperti yang dituliskan di awal, renovasi Mesjid Agung Cianjur yang terakhir dilakukan pada tanggal 2 Agustus 1993 hingga tanggal 1 Januari 1998.

Dibalik Perjalanan Panjang Mesjid Agung Cianjur

Berikut Profil Mesjid Agung Cianjur:
Alamat Jl. Siti Jenab 14 Pamoyanan, Kec. Cianjur, Kab. Cianjur
ID 01.2.13.03.01.000004
Luas Tanah 30.000 m2
Status Tanah Wakaf (Raden Boededar)
Luas Bangunan 2.500 m2
Tahun Berdiri Tahun 1810
Jumlah Imam 20 Orang
Jumlah Khatib 50 Orang
Jumlah Muazin 10 Orang